Klik here!

Selasa, 02 Juni 2009

Politik Melodramatik

Istilah Politik Melodramatik ini saya dengar di sebuah perbincangan radio. Salah seorang pengamat politik mengungkapkan istilah tadi untuk menggambarkan cara pandang politik sebagian besar masyarakat Indonesia, termasuk di dalamnya tokoh-tokoh yang sering dianggap sebagai negarawan. Pandangan politik itulah yang seringkali memberi warna politik kita sekarang ini, khususnya selama masa pemilu seperti sekarang ini.
Melodramatik digambarkan seperti kita menonton sebuah sinetron. Ketika kita menonton sinetron, kita seringkali mudah terharu. Terlebih ketika ada adegan si pemeran utama dianiaya oleh peran antigonis, kita bisa sampai sangat emosional dan mengeluarkan air mata.
Dalam politik kita pun sering terjadi kondisi seperti tadi. Masyarakat mudah terenyuh dan terharu kepada elit-elit politik yang terkesan dianiaya dan dipojokkan tak peduli track record si tokoh itu bagaimana. Fenomena kemenangan Partai Demokrat dengan ketokohan SBY di dalamnya acapkali dianggap sebagai bukti yang menunjukkan kondisi politrik melodramatic. Pada pemilu lima tahun yang lalu pun, kemenganan PDIP dengan ketokohan Megawati, sering dianggap menunjukkan kondisi serupa.
Ternyata, kenyataan seperti ini cepat direspon oleh para elit politik, termasuk oleh para capres/cawapres bersama tim suksesnya. Mereka pun berlomba-lomba meluluhkan hati masyarakat. Satu-persatu mereka pun berakting bak seorang actor protagonis. Mereka menjambangi tempat-tempat berkumpulnya warga, seperti, pasar, stasiun, terminal bahkan ke pelosok-pelosok kampong layaknya seorang superhero. Dan hebatnya perilaku artificial ini acapkali direspon positif oleh masyarakat. Sehingga tak jarang acting para elit politik ini dapat mendongkrak perolehan dukungan bagi mereka.
Para elit politik pun tak ragu mengeluarkan anggaran beratus-ratus juta bahkan milyaran rupiah, hanya untuk menarik simpati masyarakat melalui iklan-iklan di berbagai media. Sebisa mungkin iklan-iklan itu dibuat seakan-akan mereka dekat dengan masyarakat.
Sepertinya, kita sedang diarahkan pada sisi sentimental konyol yang lambat laun bisa mematikan sisi kritis kita. Dan sebagian besar elit politik di Negara ini terkesan menikmati kondisi ini, karena masyarakat kita seringkali lebih mudah diluluhkan dan dibohongi. Ternyata, dalam politik kita sekarang ini tak hanya berlaku money politic. Sekarang pun muncul fenomena melodrama politic. Wallahu a’alam..

Selasa, 06 Januari 2009

TRAINING YOUTH PARLIAMENT

UNTUK KAMU
v YANG INGIN MEMPERDALAM PENGETAHUAN TENTANG MEKANISME PENGAMBILAN KEBIJAKAN PUBLIK
v YANG INGIN MEMPERDALAM PENGETAHUAN TENTANG PARLEMEN DAN POLITIK
v YANG INGIN MENAMBAH JARINGAN DI KALANGAN ANAK MUDA

BERGABUNGLAH DI :

PARLEMEN MUDA (YOUTH PARLIAMENT)

ACARA INI DIADAKAN DI EMPAT PROVINSI (JAWA BARAT, DKI, BANTEN DAN JAWA TIMUR)

APA SAJA PERSYARATANNYA ?

SEMUA MAHASISWA DARI BERBAGAI JURUSAN YANG DUDUK DI SEMESTER III (MAU KE SMT IV) DAN SEMESTER V (MAU KE SMT VI)
MEMILIKI KETERTARIKAN DENGAN ISU REFORMASI PARLEMEN
MENGIRIMKAN CURRICULUM VITAE (CV)
PAS PHOTO 4 X 6
MENGIRIMKAN ARTIKEL OPINI DENGAN TEMA “APA YANG HARUS DILAKUKAN UNTUK REFORMASI PARLEMEN”

KIRIMKAN SEBELUM TANGGAL 28 JANUARI 2009 CAP POS (ATAU TANGGAL E-MAIL)

KE MANA ?

UNTUK WILAYAH JAWA BARAT, BANTEN, DKI DAN SEKITARNYA
KIRIMKAN PERSYARATAN ANDA KE :

BIGS (Bandung Institute of Governance Studies)
JL. Sadang Sari I No. 3 Sadang Serang, Bandung 40134
Telp / Faks +62 22 2514433
Hp. +62 22 70787931
Hp. +62 815 7299 3844
Atau lewat e-mail : bigs@bdg.centrin.net.id atau admin@parliamentarycenter.or.id

UNTUK WILAYAH JAWA TIMUR DAN SEKITARNYA (YOGYAKARTA DAN JAWA TENGAH) KIRIMKAN PERSYARATAN ANDA KE :

PATTIRO MALANG
Jl. Arif Margono II No. 15 Malang 65117 Jawa Timur
Phone / Fax. 0341 341725
e-mail : pattiromalang@yahoo.co.id atau admin@parliamentarycenter.or.id

KENAPA KAMU HARUS IKUT ?

INI MERUPAKAN ACARA YANG BERGENGSI
SETIAP PELAMAR AKAN DISELEKSI
BAGI YANG LULUS SELEKSI AKAN DIIKUTSERTAKAN DALAM TRAINING YOUTH PARLIAMENT DI JAWA BARAT ATAU DI JAWA TIMUR
ACARA INI GRATIS ALIAS TIDAK DIPUNGUT BIAYA

SO JANGAN TUNGGU LAGI, KIRIM SEGERA PERSYARATAN KAMU !!!


YOUTH PARLIAMENT
ORGANIZE BY
v INDONESIAN PARLIAMENTARY CENTER (IPC)
v BANDUNG INSTITUTE OF GOVERNANCE STUDIES (BIGS)
v PUSAT TELAAH DAN INFORMASI REGIONAL (PATTIRO)

AND SUPPORTED BY
v TIFA FOUNDATION

Rabu, 26 November 2008

Terms of Reference (TOR) Global Day of Action On Climate 2008

Terms of Reference (TOR)
Global Day of Action
On Climate 2008

Perubahan iklim saat ini telah menjadi sebuah keniscayaan yang tidak dapat kita pungkiri. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) melaporkan bahwa pada abad ke 20, suhu rata-rata permukaan meningkat sekitar 0.6°C dibandingkan tahun 1750. Suhu rata-rata permukaan diperkirakan akan meningkat hingga 1,4°C - 5,8°C pada 2100. Dengan proses saat ini, peningkatan suhu sebesar 1°C hingga 1.5°C diperkirakan tidak akan terelakkan. Dalam laporannya, IPCC merekomendasikan bahwa peningkatan suhu harus dibatasi maksimal 2°C di atas suhu pada masa pra-industri karena jika terjadi peningkatan diatas 2°C, maka dampak yang timbul akan sangat sulit diatasi.
Laporan terbaru menyebutkan bahwa 20% dari penduduk terkaya di dunia bertanggung jawab atas lebih dari 60% emisi saat ini (80% jika emisi masa lalu dihitung). Rata-rata emisi GRK orang Amerika Serikat (AS) adalah 4 - 5 kali dari emisi rata-rata dunia (1 Amerika = 9 China atau 18 India). Fakta lainnya, sistem ekonomi di AS berjalan dengan landasan energi murah dari bahan bakar fosil. Setiap orang AS menggunakan energi 8 kali lebih tinggi dari bahan bakar fosil yang digunakan rata-rata penduduk di negara berkembang. Sementara mereka, masyarakat yang paling miskin dan rentan terus menghadapi kelaparan, penyakit dan kemiskinan. Kelangsungan hidup dan hak atas pembangunan masyarakat miskin semakin terancam oleh dampak perubahan iklim (Climate of Injustice, MIT publication, Dec 2006).
Menurut perusahaan Asuransi Swiss Re (2006), 90% dari bencana terkait iklim terjadi di Asia. Cuaca panas, gelombang panas dan hujan lebat kemungkinan besar akan lebih sering terjadi. Badai siklon tropis kemungkinan lebih intensif, dengan angin kencang dan hujan deras. Ketersediaan air berkurang 10-30 % di beberapa kawasan terutama daerah tropik kering. Diperkirakan, musim hujan lebih pendek, curah hujan lebih intensif, dan risiko banjir meningkat. Cekaman kekurangan air akan menimpa jutaan orang di Asia Pasifik
Perubahan iklim akan berdampak pada sebagian besar masyarakat di dunia seiring dengan lemahnya kapasitas masyarakat yang rentan beradaptasi. Komunitas rentan umumnya amat tergantung pada ekosistem yang sensitif untuk bertahan hidup dan berpenghidupan, serta memiliki kapasitas amat kecil karena mereka bukanlah emiter GRK.
Saat ini, berbagai kelompok masyarakat menghadapi masalah karena tingginya tingkat anomali iklim dan cuaca. Dan Indonesia adalah salah satu negara yang memperoleh dampak langsung dari fenomena tersebut. Petani kesulitan untuk bercocok tanam, karena musim yang tidak tentu kerap menggagalkan benih untuk dapat bertumbuh. Bagi nelayan, ketidakpastian cuaca membuat ketidakpastian keberlanjutan hidup mereka makin tinggi. Ketersediaan pangan bagi masyarakat menipis, kelangkaan air bersih dan ledakan penyakit merupakan risiko yang akan dihadapi oleh masyarakat di mana pun.
Pemanasan global dan perubahan iklim bukan lah sekedar fakta ilmiah, atau ”sekedar” kejadian es mencair dan beruang kutub yang sulit bertahan hidup. Tetapi pemanasan global adalah tentang bagaimana kehidupan di muka bumi harus bertahan dalam situasi yang berkeadilan. Bukan hanya sekedar ”jual beli karbon” yang menafikan kehidupan masyarakat rentan.
Jika dirunut lebih jauh, perubahan iklim merupakan sinyal dari kegagalan model pembangunan global dalam menjaga kehidupan warga dunia, untuk melindungi produktivitas kelompok masyarakat di negara berkembang untuk mencapai kehidupan yang sejahtera, dan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat mempertahankan jasa ekologi.
Upaya global yang dilakukan selama 12 tahun terakhir untuk mengurangi dampak pemanasan global sudah seharusnya beranjak pada kesadaran pengakuan atas kegagalan berkelanjutan dari model pembangunan yang hanya berorientasi pada pertumbuhan. Maka, evaluasi kritis terhadap sistem politik-ekonomi global yang didukung oleh berbagai instrumen politis multilateral menjadi sangat penting untuk mengatasi ketidakadilan Utara-Selatan. Sejalan dengan itu, diperlukan gerakan kuat, yang diawali dengan diseminasi informasi untuk mendorong pemerintah RI agar lebih memperhatikan kenyataan yang dihadapi kelompok rentan dan mendapatkan dampak paling keras dari perubahan iklim.
Perubahan iklim adalah wujud nyata dari gagalnya model pembangunan global. Pernyataan ini telah disepakati oleh organisasi masyarakat sipil (Civil Society Organization/CSO) di Jakarta pada 28 September 2007 lalu. Dalam kesepakatan itu, ditengarai bahwa model pembangunan menjadi perkara pokok yang melatari pelbagai krisis alam di belahan bumi.

Dari Indonesia, koleksi krisis warga di pelbagai wilayah menunjukkan bahwa mengatasi dampak perubahan iklim tak bisa dilakukan secara terpisah. Perubahan iklim selalu mengandaikan permulaan dan keberakhiran. Permulaan ini ditandai oleh keserakahan pemimpin dalam menentukan model pembangunan, dan ditandai oleh lahirnya beragam bencana, seperti banjir, longsor, pencemaran lingkungan sebagai wujud keberakhiran. Artinya, mengatasi dampak buruk perubahan iklim harus dimulai dengan menyelesaikan satu demi satu persoalan lingkungan.
Global Day of Action on Climate
Global Day of Action on Climate atau “Hari Aksi Global untuk Perubahan Iklim” berlangsung sejak tahun 2005 dan telah menjadi kegiatan tahunan. Peringatan tersebut dilakukan pada hari Sabtu yang jatuh di tengah-tengah berlangsungnya pertemuan tahunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai perubahan iklim (Conference of Parties to UNFCCC). GDoA on Climate disebut sebagai hari aksi global karena pada tanggal tersebut masyarakat sipil dari berbagai kota dunia akan beraksi serentak menuntut keadilan iklim. Tahun ini, COP-14 UNFCCC akan berlangsung di Poznan, Polandia pada tanggal 1 – 12 Desember 2008. GDoA on Climate akan jatuh pada hari Sabtu tanggal 6 Desember 2008
Global Day of Action merupakan satu upaya untuk mengakomodasi kepentingan kelompok masyarakat sipil dan organisasi rakyat, khususnya memperkuat suara kelompok rentan melalui proses politis di pertemuan parapihak (COP) UNFCCC. Aksi ini berupaya membangunkan kesadaran masyarakat luas, yang kemudian dapat memberikan tekanan terhadap pengambil kebijakan untuk berjuang bagi kepentingan masyarakat. Melalui rangkaian kegiatan kampanye simpatik, masyarakat perlu ikut menyuarakan keprihatinan mengenai dampak perubahan iklim.
Berangkat dari kesadaran tersebut, Wahana Lingkungan Hidup Indoensia (Walhi) Jawa Barat bersama Sahabat Walhi Jabar dan Komite Persiapan Sarekat Hijau Indonesia (KP SHI) Jawa Barat mengajak seluruh masyarakat, lembaga, organisasi, komunitas, media dan para pecinta alam dari berbagai kalangan di Bandung dan Jawa Barat untuk bersama-sama melakukan aksi Global Day of Action on Climate pada hari Sabtu tanggal 6 Desember 2008.
Nama Kegiatan
Global Day Action on Climate 2008
Tujuan dan Capaian :
1. Meningkatkan kesadaran publik tentang dampak perubahan iklim di Indonesia, Jawa Barat, Bandung dan kota-kota lain di Jawa Barat.
2. Memperkuat solidaritas ekologis kelompok masyarakat untuk merespon politik perubahan iklim baik di tingkat nasional, regional maupun internasional.
3. Memfasilitasi suara dari kelompok rentan (vulnerable community’s) dalam proses COP14/MOP3 UNFCCC di Poznan Polandia
4. Memberikan argumen penting yang menempatkan kepentingan kelompok rentan (vulnerable community’s) sebagai fokus utama dari pemerintah RI terkait dengan posisi politisnya di COP14/MOP3 UNFCCC di Poznan Polandia.
Thema Kegiatan
Jangan membebek, jangan mau dikambinghitamkan !
Tuntutan :
- Penurunan emisi dan pola konsumsi negara-negara Annex I (Amerika Serikat dan negara-negara maju di Utara) serta mengurangi permintaan produk yang mengancam kerusakan hutan Indonesia.
- Menuntut pelunasan utang ekologi oleh negara-negara yang telah mengekstraksi sumberdaya alam Indonesia
- Mengukuhkan kemandirian dan kedaulatan rakyat atas energi, pangan dan air.
- Menolak nuklir, batubara dan agrofuel sebagai jawaban atas kebutuhan energi bersih masa depan.
- Menolak Bank Dunia dalam pembiayaan penanganan perubahan iklim.
Seruan
- Pengambilan langkah segera oleh para pemimpin dunia untuk mencegah terganggunya keseimbangan iklim global yang menghancurkan.
- Seluruh dunia perlu segera menyepakati traktat pengurangan emisi yang lebih kuat yang adil dan efektif dalam meminimalkan bahaya perubahan iklim.
- Menuntut negara-negara yang telah lama menjadi negara industri dan telah mengeluarkan gas rumah kaca terbanyak untuk bertanggung jawab dalam mitigasi perubahan iklim dengan cara mengurangi emisi mereka dalam waktu sesingkat-singkatnya dan berkontribusi dalam revolusi energi bersih di negara berkembang.
- Negara maju harus bertanggung jawab untuk membiayai langkah-langkah adaptasi perubahan iklim yang harus dilakukan negara-negara penghasil emisi rendah dengan sumber daya ekonomi terbatas.


Bentuk Kegiatan
Karnaval keberagaman yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat luas. Menggalang semangat persaudaraan dan solidaritas ekologi untuk mengubah dunia menjadi lebih baik. Bentuk kegiatan :
1. Longmarch
2. Kampanye dan Penyebaran Informasi
a. Media (media visit, briefing, kolaborasi)
b. Penyebaran informasi tentang climate justice (flyer, pin, infosheet)
3. Pengumpulkan pesan dari masyarakat (taking message)
4. Performance art seniman
Peserta
Masyarakat umum, kelompok rentan, Lembaga Swadaya Masyarakat, organisasi, komunitas hobby, media, seniman, tokoh masyarakat, anak-anak dan para pecinta alam dari berbagai kalangan di Bandung dan Jawa Barat
Waktu dan Tempat :
Hari/ Tanggal : Sabtu/6 Desember 2008
Jam : 09.00 wib – selesai
Tempat : Lapangan Gasibu – Bandung Indah Plasa (BIP) dan sekitarnya

Kontak Aksi
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jabar
Sahabat Walhi Jabar
KP SHI Jabar
Lorong Hijau

Jl. Piit No. 5 Bandung
Phone /Fax : +6222 2507740
e-mail : walhi-jb@rad.net.id, jabar@walhi.or.id

Contact Person
Putri Rodiyatul : 02276190910
Ragil : 02291137537 / 08562223880
Ikhsan : 08562073083

Penutup
Demikian TOR ini kami buat. Semoga partisipasi secara aktif dari semua pihak, menjadi bahan masukan bagi arah politik iklim di masa depan Semoga aksi kampanye dan tuntutan ini menjadi salah satu upaya untuk mendorong lahirnya politik iklim yang berkeadilan serta mampu melindungi masyarakat miskin dan kelompok rentan terhadap dampak perubahan iklim yang semakin mengerikan. Let’s Uphold Climate Justice for All!

Kamis, 27 Maret 2008

Teori Baru Tentang Gempa : Memprediksi Gempa Masa Mendatang


Erabaru.or.id- Ilmuwan Australia mengembangkan sebuah teori baru tentang bagaimana terjadi-nya gempa bumi di Pakistan, dan berharap akan menuju kearah perkiraan yang lebih akurat berkenaan bencana gempa bumi dan tsunami di seluruh dunia.

Para ilmuwan dari Research School of Earth Sciences (Sekolah Penelitian Tentang Ilmu Bumi) di Universitas Nasional Australia (ANU), menemukan bahwa beberapa gempa paling dramatis yang terjadi di pegunungan Hindu Kush, Pakistan, disebabkan oleh meregangnya batuan dalam dibawah permukaan bumi.

Penemuan mereka, dipublikasikan dalam jurnal Nature Geoscience, bertentangan dengan teori yang mengatakan bahwa gempa bumi biasanya dihasilkan dari tubrukan pergesekan antara lempeng-lempeng tektonik.

“Kita selalu berfikir tentang gempa bumi sebagai akibat rapuhnya bumi,” kata peneliti ANU, Professor Gordon Lister.

“Akan tetapi penelitian kami menunjukkan bahwa lambat laun, terbentuknya regangan karakteristik geologi tertentu dapat membentuk suatu energi yang secara tiba-tiba dilepaskan, sehingga menjadi penyebab utama bergolaknya gempa bumi.”

Dengan menggunakan model dalam komputer, para peneliti dapat menunjukkan massa batuan panjang yang berbentuk seperti sosis diregangkan kedalam interior bumi dibawah permukaan wilayah Hindi Kush, bagian utara Pakistan.

Seperti sepotong permen karet, adakalanya batuan mempercepat tingkat peregangan, meng-hasilkan pelepasan energi yang cepat, yang pada gilirannya bisa mengakibatkan gempa bumi yang hebat. Prof Lister percaya bahwa teori baru ini akan membantu para ilmuwan untuk memahami lebih baik bagaimana terjadinya gempa bumi diseluruh dunia, dan dapat mengarahkan sistem perkiraan gempa bumi yang lebih baik.

“Kami mulai mendorong kearah fundamental terhadap apa yang menjadi penyebab gempa bumi, bukan hanya apa yang terjadi selama berlangsungnya gempa bumi. Kami menyebutnya sebagai memahami ‘kemarahan alam’,”katanya.

“Ini memberi masukan yang potensial bagi kami untuk secepatnya mengembangkan hal baru dan inovasi jangka panjang berkenaan teknik memprediksi gempa.

Prof Lister mengatakan: “Walaupun pemecahannya tidak mencukupi untuk penelitian gempa. Kami telah menghabiskan jutaan dolar setelah kejadian tsunami di Sumatra, membantu mereka kembali untuk mandiri, dan kami menggunakan sebagian untuk sistem peringatan dini (tsunami), akan tetapi di dalam tujuan dasar penelitian, kami belum menggunakannya sepersen pun terhadap pemahaman apa yang sebenarnya terjadi,”katanya.

Ia menambahkan ketika beberapa orang memegang pandangan bahwa perkiraan gempa bumi adalah sebuah permainan sulap, wawasan baru terhadap geologi bumi, sebagaimana dalam temuan timnya, telah menjadikannya sebagai ilmu pengetahuan yang lebih pasti.

“Data mulai terlihat, karena teknik baru kami, dimana anda benar-benar dapat melihat pergerakan yang terjadi akan secepatnya berubah menjadi gempa bumi utama.” (AAP/The Epoch Times/dta)

http://en.epochtimes.com/news/8-2-25/66575.html

Bongkahan Besar Es Longsor


Kamis, 27 Maret 2008 | 01:03 WIB

Washington, Rabu - Sebongkah es dari Antartika yang besarnya setara dengan tujuh kali luas Manhattan tiba-tiba longsor. Kejadian ini membuat sisa es yang lebih besar akan berisiko longsor pula. Demikian disampaikan para ilmuwan di Washington, Amerika Serikat, Rabu (26/3).

Citra dari satelit menunjukkan bongkahan yang terlepas berukuran 160 mil persegi atau 414,4 kilometer persegi dan sudah mulai runtuh pada 28 Februari lalu. Bongkahan itu merupakan tepian dari beting es Wilkins yang telah ada di sana sejak ribuan tahun, mungkin 1.500 tahun yang lalu. Beting es Wilkins merupakan hamparan es yang secara permanen terapung. Jaraknya sekitar 1.609 kilometer sebelah selatan Amerika utara, di barat daya Semenanjung Antartika.

”Peristiwa ini jelas merupakan dampak dari pemanasan global,” ujar David Vaughan dari British Antarctic Survey.

Karena para ilmuwan menerima citra dari satelit itu dalam hitungan jam, mereka segera mengalihkan kamera satelit, bahkan tidak sedikit yang segera terbang ke atas bongkahan yang longsor untuk mengambil gambar foto dan video.

Akibat longsor ini, sebagian besar beting yang luasnya sekitar 12.950 kilometer persegi kemudian hanya ditopang oleh bentangan es kecil yang panjangnya hanya 5,6 kilometer. Es penopang ini berada di antara dua pulau.

”Ini merupakan peristiwa yang tidak sering terjadi,” ujar Ted Scambos, ilmuwan yang memimpin tim riset dari National Snow and Ice Data Center di Boulder, Colorado.

”Jika ada sedikit saja guncangan, penopang ini akan longsor juga dan tampaknya kita akan kehilangan separuh dari total area es dalam waktu beberapa tahun saja,” ujar Scambos.

Scambos mengatakan, beting es telah berada di tempatnya selama ratusan tahun, tetapi udara yang hangat dan paparan ombak membuatnya terbelah-belah.

Selama setengah abad ini, Semenanjung Atlantik telah menjadi hangat lebih cepat dibandingkan dengan bagian lain di muka bumi ini.

”Pemanasan yang terjadi di semenanjung itu sangatlah jelas terkait dengan kenaikan gas rumah kaca serta perubahan yang terjadi di sekitar kawasan Antartika,” ujar Scambos.

Seperti dibom

Walaupun gunung es secara alamiah kadang memang longsor dari gunung utama, kejadian longsor semacam ini sangat tidak biasa, tetapi terjadi lebih sering dalam dekade belakangan ini, jelas Vaughan. Longsornya bongkahan es itu sama seperti yang terjadi ketika sebuah gelas kaca dihantam palu dengan keras, katanya lagi.

Jim Elliot yang turut di pesawat Twin Otter yang membawa tim British Antarctic Survey menggambarkan, keadaan setelah longsor sangat berantakan seperti habis dibom.

”Saya tidak pernah melihat kerusakan seperti ini, sangat menakutkan. Kami terbang di atas pecahan utama dan memerhatikan pergerakan pecahan terjal akibat dari longsoran itu. Bongkahan es ada yang setara dengan rumah kecil, tampak terlihat telah terlempar. Seperti telah terjadi ledakan bom,” katanya.

Sisa beting es Wilkins yang kira-kira sama besarnya dengan Connecticut masih bertahan pada lapisan es yang tipis. Para ilmuwan khawatir kelak akan lebih banyak lagi bongkahan es yang akan longsor.

Vaughan memperkirakan beting es Wilkins akan longsor semuanya dalam waktu 15 tahun dari sekarang. Bongkahan yang baru saja longsor sekitar 4 persen dari seluruh beting yang ada. Bagian itu merupakan bagian yang penting karena dapat menyebabkan bagian lain ikut longsor.

Masih ada kesempatan bagi sisa bongkahan agar dapat tetap selamat hingga tahun depan karena saat ini merupakan akhir dari musim panas di Antartika. Udara dingin akan segera datang dan menyelamatkan sisa bongkahan es, kata Vaughan.

Para ilmuwan itu tidak mengkhawatirkan kenaikan permukaan laut akibat kejadian ini, tetapi mengatakan bahwa kejadian itu merupakan pertanda pemanasan global semakin menjadi-jadi.

Perubahan iklim

Vaughan mengatakan, beting es Wilkins terpecah dan tidak akan memengaruhi permukaan air laut ketika longsor.

Selama setengah abad ini Semenanjung Antartika di sebelah barat telah mengalami perubahan temperatur yang paling tinggi. sekitar 0,5 derajat Celsius per dekade. Iklim di Antartika saat ini sangat rumit dan lebih terisolasi dari bagian lain di bumi ini.

Menurut perhitungan para ahli, kenaikan permukaan laut per meter sekitar 3 milimeter per tahun dan pada akhir abad ini permukaan air laut akan naik hingga 1,4 meter.

Kejadian longsor es itu merupakan indikasi akan penyebab adanya perubahan dalam sistem iklim, kata Sarah Das, ilmuwan dari Woods Hole Oceanographic Institute.

”Sekali meleleh, bongkahan es itu akan lenyap untuk selamanya,” ujar Das. (AP/AFP/REUTERS/JOE)

Senin, 24 Maret 2008

Harga Hutan Alam


Selasa, 18 Maret 2008

Ketetapan yang dibuat dalam Peraturan Pemerintah tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak untuk Penggunaan Kawasan Hutan, Nomor 2 Tahun 2008, dianggap terlampau murah. Pemerintah memutuskan harga hutan dengan mengizinkan pembukaan kawasan hutan untuk kegiatan tambang, energi, infrastruktur telekomunikasi, dan jalan tol dengan tarif hanya Rp 1,2-2,4 juta per hektare. Tentu saja harga ini terlalu murah jika dibuat per meter, yaitu hanya Rp 102 dan Rp 240 per tahun, lebih murah dari harga pisang goreng yang sekarang berkisar Rp 300-500 per potong. Bandingkan pula murahnya harga 1 hektare lahan hutan, sama dengan harga 1 meter persegi tanah di kawasan menengah di Jakarta. Andaikan lahan itu di Jakarta--walaupun di bawahnya tidak ada lahan tambang--satu hektarenya akan berharga Rp 1,2 miliar hingga Rp 2,4 miliar.

Lalu, berapa harga yang pantas untuk nilai hutan sehingga diperoleh angka yang tepat dan bertanggung jawab? Dalam kondisi seperti sekarang, ketika semua orang sudah pandai berhitung, dengan kepentingan yang berbeda, harga ini akan sangat bervariasi karena perbedaan persepsi. Selama ini para pengambil kebijakan di bidang kehutanan, misalnya, hanya menghitung hasil hutan melalui rente ekonomi kayu (log). Hal ini karena ekonomi pasar tidak menghargai ranah publik yang lain, seperti nilai air sungai yang mengalir, fungsi hutan sebagai regulasi iklim, penyedia tanaman obat-obatan, dan sumber stok genetik, serta nilai-nilai yang tidak tampak lainnya. Karena itu, selama tidak ada nilai jual yang konkret yang menghasilkan pemasukan dan pendapatan negara, perhitungannya pun akan diabaikan.

Di lain pihak, akibat hilangnya fungsi-fungsi tersebut, masyarakat mulai sadar, sebesar apa pun pendapatan yang diperoleh pemerintah, ketika terjadi bencana lingkungan, harga tersebut ternyata tidak mampu membawa penawar dan mengembalikan kehidupan mereka. Belum lagi biaya eksternalitas yang harus ditanggung oleh penduduk akibat limbah industri dan pertambangan yang mengakibatkan penurunan jasa ekosistem baik secara lokal maupun global.

Orientasi para pengambil keputusan di bidang kehutanan semacam ini--meminjam kata Emil Salim--masih berorientasi pada pembangunan konvensional yang antroposentris. Menyadari kesenjangan itu, para ahli lingkungan melakukan pendekatan penghitungan nilai ekonomi (valuasi ekonomi) terhadap hutan alam dan ekosistem alami yang ditinjau dari berbagai aspek. Secara teoretis, Indrawan dkk (2007) menghitung nilai ekonomi sumber daya dengan berbagai masukan. Pertama, nilai langsung, yaitu nilai-nilai ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat sekitar hutan, misalnya perolehan ikan, daging, kayu bakar, bahan bangunan, tumbuhan obat, dan rumput serta tumbuhan yang dapat dimakan oleh ternak.

Kedua, nilai tidak langsung. Misalnya kontrol banjir, kesuburan tanah, penyerap karbon atau regulasi iklim, air minum, rekreasi, dan wisata alam, termasuk jasa misalnya pengamatan burung, jasa biologi seperti pengontrol hama, dan keberadaan serangga penyerbuk. Ketiga, perhitungan juga dilakukan untuk nilai pilihan masa depan, yaitu sebagai sumber obat, sumber daya genetik, wawasan biologi, dan suplai air. Dan keempat, nilai kehidupan, misalnya perlindungan keanekaragaman hayati, memelihara budaya penduduk lokal, melanjutkan proses evolusi, serta ekologi.

Berdasarkan penilaian ini, setiap daerah dan kawasan tentu akan berbeda-beda. Karena itu, valuasi ekonomi lingkungan biasanya mengambil jalan tengah untuk tidak memberikan kompensasi yang dipukul rata, dengan dan mempertimbangkan dampak ekologi yang dapat dikaitkan oleh pembangunan pada potensi dan kajian nilai-nilai ekonomi di daerah sekitarnya. Karena itu, apabila peraturan ini dilakukan secara nasional, ketentuan lain hendaknya memberikan keleluasaan kepada aturan di bawahnya berupa peraturan daerah dan peraturan menteri secara lebih terperinci dengan melihat berbagai pertimbangan ekologis yang turut dihitung.

Hendaknya kita belajar, ketika harga tersebut dihadapkan pada persoalan lingkungan yang tengah melanda kita, seperti tanah longsor, banjir, kehilangan fungsi hutan sebagai regulasi ekosistem, bahkan dari peristiwa lumpur Lapindo yang ketika terjadi kerusakan dan bencana, harga yang diterima pasti tidak sebanding. Karena itu, wajarlah jika ada penolakan dari beberapa pemerintah daerah dalam penetapan harga tersebut. Sebab, pemda mulai sadar, masyarakat di daerahlah yang menjadi korban akibat kebijakan yang dibuat oleh pemerintah pusat.

Sejak awal ditandatanganinya Perpu Nomor 1 Tahun 2004 tentang Pertambangan di Hutan Lindung oleh Presiden Megawati yang kemudian menjadi UU Nomor 19 Tahun 2004, masih segar di ingatan kita perdebatan yang berpihak pada kebijakan untuk mengorbankan alam sebagai subyek dan sumber pendapatan ekonomi instan. Para pencinta lingkungan masih dapat berharap ada lagi skema lain yang bisa diandalkan untuk benar-benar memperketat penambangan di hutan lindung tersebut dengan peraturan ketat. Bahkan Departemen Kehutanan berjanji ingin memperketat peraturannya antara lain dengan meminta penambang membayar ganti rugi nilai tegakan yang ditebang, menyediakan tanah lain kepada Departemen Kehutanan, menanggung biaya reboisasi, dan mereklamasi kawasan hutan lindung yang telah dipergunakan tanpa menunggu berakhirnya kegiatan penambangan.

Anjuran para ahli ekologi adalah, dalam mengambil prinsip perhitungan ini, pertimbangan harus diadakan berdasarkan analisis biaya-manfaat (cost-benefit) dengan menghitung segala jasa ekosistem yang ada di kawasan tersebut. Namun, dalam prakteknya, cara perhitungan ekonomi-ekologi ini sangat sulit dihitung karena biaya dan manfaat selalu berubah dan sulit diukur.

Sebagai pencinta lingkungan, saya menghargai pemerintah daerah yang kini cenderung kritis dan menahan diri dan mengaplikasikan prinsip pencegahan. Pada prinsipnya--untuk situasi yang tidak stabil dengan alam yang sensitif seperti Indonesia--prinsip kehati-hatian lebih baik diterapkan. Bila perlu, lebih baik berbuat keliru dengan terlalu berhati--dan membatalkan sebuah proyek--daripada membuka kemungkinan terjadinya bencana di masa depan.

*) Fachruddin Mangunjaya, Pendiri Borneo Lestari Foundation, Kalimantan Tengah

Disadur dari tempointeraktif.com

Kamis, 13 Maret 2008

Es Kutub Mencair, Daratan Menciut




Pemanasan global yang mencairkan lapisan es abadi di kawasan kutub akan berdampak pada naiknya muka air laut. Namun sejauh ini laju kenaikannya belum dapat dihitung secara akurat. Dalam siklus zaman es dan zaman yang lebih hangat yang datang silih berganti, sebetulnya, bumi telah berulangkali mengalami fase turun dan naiknya
muka air laut. Sejarah geologi menunjukkan, kenaikan muka air laut akibat mencairnya lapisan es di kutub dapat berlangsung dalam tempo amat cepat.


Indikasinya ditemukan oleh guru besar mikro-paleontologi
dari Jerman, Prof Michael Kucera. Bahkan dari penelitian fosil mikro-organisme pada sedimen berusia ratusan ribu tahun, menunjukkan zaman dimana terjadi kenaikan muka air laut lebih dari enam meter. Untuk mengetahui sejarah purba itu, para peneliti melakukan pemboran lapisan sedimen Bumi untuk membaca sejarah geologi selama beberapa juta tahun terakhir. Inti bor yang terdiri struktur lapisan sedimen selama berjuta-juta tahun itu, dapat dibaca seperti lingkaran pertumbuhan pada batang pohon. Prof Michael Kucera tidak dapat menggambarkan pembentukan lapisan sedimen seperti pertumbuhan pohon.


Seiring dengan waktu, lapisan baru akan terbentuk di atas lapisan
sedimen lama. "Dari inti bor, kita ibaratnya membaca sebuah buku secara terbalik dari belakang ke depan, dari fosil mikro apa yang dapat kita temukan di masa lalu," ujarnya. Banyak mikro organisme di zaman purba yang sangat mirip dengan mikro organisme modern. Dengan begitu para pakar dapat melakukan penelitian, bagaimana kondisi mikro organisme ini semasa hidupnya? Unsur apa yang tertimbun dalam tubuh mikro organisme tsb? Habitat seperti apa yang mereka perlukan?


Pakar mikropaleontologi Jerman, Prof Michael Kucera memberikan
analoginya dengan penelitian flora dan fauna modern. Misalnya, para peneliti melakukan ekspedisi untuk meneliti jenis apa yang hidup di kawasan tropis atau di kawasan laut dingin. Mereka juga meneliti, bagaimana proses terbentuknya cangkang binatang ini, unsur kimia apa yang tersedimentasi atau terurai, bagaimana kaitan antara komposisi kimia dengan suhu permukaan air bagi kehidupan mikro organisme. Dari berbagai data yang dihimpun, para ilmuwan dapat memperkirakan, bagaimana kondisi kehidupan beberapa ratus ribu tahun yang lalu. Karena pada prinsipnya mikro-organisme nyaris tidak mengalami perubahan selama ribuan tahun. Atau dapat menunjukkan habitatnya, jika menemukan mikro-organisme tertentu yang bercangkang kapuran, dipastikan habitatnya di masa lalu adalah kawasan laut.


Prof Kucera
menjelaskan lebih lanjut : Dari data tsb diketahui, bahwa pada fase iklim yang lebih hangat sekitar 125 ribu tahun lalu, muka air laut di Bumi sekitar enam meter lebih tinggi dari muka air laut saat ini. Ini diketahui dari fosil terumbu karang yang dengan gampang dapat dilihat berada pada lapisan enam meter di atas permukaan laut saat ini. Artinya jelas, muka air laut di zaman itu harusnya enam meter lebih tinggi. Tim peneliti internasional membuktikan kemungkinan naik drastisnya muka air laut. Dalam hal ini inti bor dari kawasan Laut Tengah, jazirah Arab serta kawasan Laut Merah memainkan peranan amat menentukan.


Di kawasan Laut Merah kadar garamnya jauh lebih
tinggi dari normal, karena itu fossil dari kawasan itu kualitasnya amat bagus. Para peneliti iklim sejauh ini belum mendapat angka yang akurat, berapa kecepatan pelumeran lapisan es abadi di kawasan kutub dan di pegunungan tinggi. Yang jelas, lapisan es abadi di Greenland terus menipis. Walaupun begitu, kini dapat diamati di kawasan Greenland terjadi laju pelumeran lapisan es yang lebih cepat dibanding perkiraan dari model iklim yang dibuat para pakar beberapa tahun lalu. Ancaman terus naik drastisnya muka air laut tidak dapat dihentikan, juga jika pemanasan global dapat ditahan pada rata-rata dua derajat Celsius.


Jika berbagai usaha untuk mencegah melumernya
seluruh lapisan es abadi di bumi tidak berhasil, muncul skenario horor dari zaman musnahnya Dinosaurus sekitar 100 juta tahun lalu. Di zaman itu muka air laut sekitar 70 meter lebih tinggi dibanding muka air laut saat ini. Dan yang belum diketahui, seberapa cepat laju kenaikannya di zaman 100 juta tahun lalu.